Pagi ini terasa sedikit berbeda, mengucap syukur Alhamdulillah, masih diijinkan oleh sang maha pemilik hidup untuk menghirup udara paginya untuk kesekian kali. Kenapa berbeda, karena entah kenapa kelopak mata kanan saya bagian atas mulai memBENGKAK sejak kemarin sore. Ya, berbeda rasa melihat seperti biasanya ketika tidak ada rasa cenut-cenut ketika melihat sebuah objek. Bisa menggerakkan kedua bola mata ke segala arah yang diingini tanpa takut terasa nyeri. Yang pengen saya garis bawahi disini adalah ketika kita bisa merasakan apa yang tidak biasa, tetapi seharusnya bisa menjadi biasa. Karena memang begitu wajarnya. Ada kalanya kita bisa merasakan waras, baik-baik saja ketika kita dalam kondisi yang benar-benar sehat wal afiat tidak ada kurang satu apapun. Seharusnya bisa menjadi biasa ketika kita mengalami kondisi tubuh yang tidak biasa, karena sejatinya sakit atau derita pasti dialami oleh yang bernyawa. Kalau bisa disebut ujian, yang begini ini termasuk ujian kecil tak sampai di ujung kuku jari kelingking saya. Ukurannya seharusnya seperti itu. Dan seharusnya pula, dengan rasa sakit yang tidak seberapa dibandingkan sakit2 lainnya dimana jika saya mengeluh, sudah sepantasnya saya dilempar, dijitak dengan sandal kayu yang made in Indonesia itu katanya.. (It's Called kelompen atau bakiak klo ndak salah).
![]() |
| Lumayan tambah bengkak kalo dilempar pake ini kali yaak,, hehehe |
Fase inilah yang disebut dengan Mengeluh. Apalagi dengan kondisi badan, ada yang sempet bilang beberapa waktu lalu, "Mas kecapekan paling". Wajar memang, manusia itu memang tempatnya mengeluh. Diberi sedikit badan yang menghangat, diberi sedikit cenut-cenut cekot-cekot, akhirnya aduh, sakit, aduh, pusing. Yaaaa,, kembali ke fitrah manusia yang suka mengeluh. Hal yang menurut saya menjadikan pribadi yang lemah pada akhirnya jika terbiasa mengeluh. Nah, karena manusia dengan berbagai kekurangannya salah satunya memiliki sifat humanis ini "mengeluh", maka alangkah luar biasa cerdasnya ketika kita mengimbangi bahkan berbuat lebih dengan yang namanya "mensyukuri", bersyukur atas nikmat Allah Swt yang tiada henti mengalir ke pundi-pundi manusia yang sering cepat kosong. Sadar atas trilyunan akses mudah untuk menikmati nikmat Allah yang tiada hentinya untuk kita.
Pada udah hafal di luar kepala kan salah satu ayat yang disebut berulang di Al-Qur'an surat Ar-Rahman yang bunyinya :
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
(Salah satu ayat di Surat favorit orang istimewa di hatiku)
Kembali ke manifestasi rasa syukur itu bagi kalangan manusia dan hamba-Nya yang meng-imani, mem-per-cayai, bahwa nikmat dari Allah itu tidak ber-batas. Kita sebagai manusia dituntut bahkan oleh diri kita sendiri agar sadar dan peka atas nikmat2nya yang terkadang terlupa-kan. Bahkan bisa dibilang sakit-nya manusia itu adalah sebuah nikmat yang Allah berikan kepada kita, sehingga ada alarm, bahwa kita harus mengingat kembali, kita ada di dunia yang indah ini hanya karena DIA.. Kita bisa melompat, menari, riang gembira hanya atas kasih dan sayangNya. Bagaimana kita bisa mendekat dan mengingat kembali agar kita tetap berada dalam koridor Iman Islam yang lurus dijalanNya. "Aku bisa bertemu denganmu pun karenaNya". Kita bisa sampai pada hari ini, menjadi seperti ini hanya karena Allah Swt. Apalagi yang bisa kita banggakan di hadapanNya yang maha segala, selain terus memperbaiki iman di hati agar semakin menjadi hamba2Nya yang pandai bersyukur atas nikmatNya yang tiap detik terus men-supply kita tanpa batasan waktu. Akupun sesungguhnya masih jauh dari kata pandai ber-syukur itu. Tapi marilah kita mati-matian belajar untuk mencapai setidaknya bisa sampai pada alamat itu, bisa mengetuk pintu itu, masuk kedalamnya, tinggal didalamnya dan beraktifitas penuh sehari-hari di dalam Rumah yang disebut dengan "RASA SYUKUR" itu..
"Semoga kita tergolong hamba2Nya yang pandai mensyukuri Nikmat Allah Swt yang diberikan kepada kita"
Amin3x Ya Rabbal Alamin.
Pada udah hafal di luar kepala kan salah satu ayat yang disebut berulang di Al-Qur'an surat Ar-Rahman yang bunyinya :
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
(Salah satu ayat di Surat favorit orang istimewa di hatiku)
Kembali ke manifestasi rasa syukur itu bagi kalangan manusia dan hamba-Nya yang meng-imani, mem-per-cayai, bahwa nikmat dari Allah itu tidak ber-batas. Kita sebagai manusia dituntut bahkan oleh diri kita sendiri agar sadar dan peka atas nikmat2nya yang terkadang terlupa-kan. Bahkan bisa dibilang sakit-nya manusia itu adalah sebuah nikmat yang Allah berikan kepada kita, sehingga ada alarm, bahwa kita harus mengingat kembali, kita ada di dunia yang indah ini hanya karena DIA.. Kita bisa melompat, menari, riang gembira hanya atas kasih dan sayangNya. Bagaimana kita bisa mendekat dan mengingat kembali agar kita tetap berada dalam koridor Iman Islam yang lurus dijalanNya. "Aku bisa bertemu denganmu pun karenaNya". Kita bisa sampai pada hari ini, menjadi seperti ini hanya karena Allah Swt. Apalagi yang bisa kita banggakan di hadapanNya yang maha segala, selain terus memperbaiki iman di hati agar semakin menjadi hamba2Nya yang pandai bersyukur atas nikmatNya yang tiap detik terus men-supply kita tanpa batasan waktu. Akupun sesungguhnya masih jauh dari kata pandai ber-syukur itu. Tapi marilah kita mati-matian belajar untuk mencapai setidaknya bisa sampai pada alamat itu, bisa mengetuk pintu itu, masuk kedalamnya, tinggal didalamnya dan beraktifitas penuh sehari-hari di dalam Rumah yang disebut dengan "RASA SYUKUR" itu..
"Semoga kita tergolong hamba2Nya yang pandai mensyukuri Nikmat Allah Swt yang diberikan kepada kita"
Amin3x Ya Rabbal Alamin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar