Baru saja saya membuka email, mata saya tertuju pada subject [Berita Duka].. Senior kami di kampus diberitakan meninggal karena mengalami gagal ginjal di umur yang masih terbilang muda. Kata kematian, mati, pejah, sedo, tutup usia, meninggal dunia, wafat, masuk liang lahat.. Beberapa kata tersebut tentunya memiliki makna yang sama, yaitu sama-sama sudah waktunya menutup mata, waktunya menghadap yang kuasa, waktunya meninggalkan semua yang kita punya, siapa saja yang kita kenal, terutama orang-orang yang penuh arti di sekeliling kita. *Sambil garuk-garuk kepala,, kira-kira angka berapa ya yang tertulis di lauhul mahfudz sana???.. Ah berapapun angkanya semoga si saya kelak bisa terlebih dahulu membina keluarga bersama istri idaman, membangun keluarga dengan landasan Islam yang mulia, hingga melahirkan insan yang menjunjung tinggi Islamnya diatas segala.. Amin2x ya Rabbal Alamin.. *praying...
Merinding rasanya ketika saya menekan tombol keyboard ini sehingga merangkai sebuah kata yaitu mati. Beberapa waktu yang lalu, di komunitas ngaji yang saya ikuti, kebetulan sedang membahas tentang tata cara pengurusan jenazah.. Mulai dari memandikan hingga mengkafani. Bukan prosesnya yang ingin saya bahas,, tentunya sudah banyak tutorial atau bahkan ilmu para pembaca sudah dalam level kelas fasih/mummtaz.. Salah satu pengalaman berharga untuk saya, karena pada saat itu saya menjadi sukarelawan untuk menjadi Sang Jenazah.. Sebuah kehormatan, dan kengerian untuk saya pribadi.. Bahwasannya kali itu saya akan benar-benar merasakan bagaimana rasanya dibungkus bagaikan lemper.. Hanya saja menggunakan kain kafan.. Wajarnya, seorang jenazah tidak akan pernah merasakan rasanya ketika dia mulai dimandikan dan dibalut dengan kain kafan.. Karena wajarnya jenazah = yang sudah mati..
Berbeda rasanya ketika saya yang masih waras,, melek selebar mata saya, sadar sesadar-sadarnya, merasakan serta mengalami bagaimana rasanya terbungkus terbalut dengan kain kafan.. *merinding lagi.. Ada nuansa yang berbeda yang saya rasakan ketika itu.. Walaupun teman-teman dengan terbahak-bahak menertawakan saya bagaikan lemper yang dibungkus daun pisang kala itu,, tapi saya sungguh sangat bersyukur, mendapatkan pengalaman mati sejenak itu.. Dari situ saya belajar merasakan bagaimana rasanya terbalut kain kafan tanpa ada daya dan upaya untuk bisa berontak dan lantang mengatakan bahwa saya masih ingin hidup 1000 tahun lagi.. *kata Chairil Anwar.. Betapa tidak berdayanya manusia ketika kubur menyapa..
*lagi-lagi merinding...
*lagi-lagi merinding...
Kematian adalah sebuah fase dimana semua yang hidup pasti akan menyambutnya.. Nafas berhenti, pandangan mulai menghilang, merasakan dahsyatnya sakit ketika ajal menjemput (menurut riwayat, serasa ditusuk dengan pedang 300 kali) hingga roh meninggalkan jasad.. Sesungguhnya fase ini adalah fase yang penuh dengan kemuliaan dimana manusia akan segera bertemu dengan Sang Maha Pencipta yaitu Allah Swt.. Saya teringat sebuah petikan dari Al-Imam Hasan Al-Basri, "Puncak kesenangan bagi seorang mukmin ialah ketika ia bertemu dengan Allah Swt. Maka hari kematian baginya adalah hari kegembiraan, kesenangan, keamanan, kemegahan serta kemuliaan".. Belajar dari petikan itu, bahwa kita sebagai umat Islam, umat terbaik sepanjang masa,, dari Agama Islam yang Rahmatan lil Alamin, harus mempergunakan kemampuan akal di Otak kita tanpa batasan prosentase, untuk memaksimalkan usaha, dan berjuang penuh dalam rangka menumpuk bekal dan tabungan untuk menjemput kematian kita.. Mempersiapkan sebaik mungkin agar kelak kita menjadi manusia yang menjemput kematian yang Khusnul Khatimah.. Kenapa saya katakan "menjemput", karena sesungguhnya ujung dari perjalanan hidup kita yang singkat di bumi ini adalah mati.. *merinding lagi..
Mengutip dari http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/ingat-mati.html bahwasannya :
Orang yang cerdas adalah orang yang tahu persis tujuan hidupnya. Kemudian mempersiapkan diri sebaik-baiknya demi tujuan tersebut. Maka, jika akhir kesempatan bagi manusia untuk beramal adalah kematian, mengapa orang-orang yang cerdas tidak mempersiapkannya?
Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan’, yaitu kematian. (HR. At Tirmidzi, Syaikh Al Albaniy dalam Shahih An Nasa’iy 2/393 berkata : “hadits hasan shahih”)
Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly hafizhahullah menjelaskan perihal hadits di atas, “Dianjurkan bagi setiap muslim, baik yang sehat maupun yang sedang sakit, untuk mengingat kematian dengan hati dan lisannya. Kemudian memperbanyak hal tersebut, karena dzikrul maut (mengingat mati) dapat menghalangi dari berbuat maksiat, dan mendorong untuk berbuat ketaatan. Hal ini dikarenakan kematian merupakan pemutus kelezatan. Mengingat kematian juga akan melapangkan hati di kala sempit, dan mempersempit hati di kala lapang. Oleh karena itu, dianjurkan untuk senantiasa dan terus menerus mengingat kematian.”
Faktor-Faktor yang Dapat Mengingatkan Kematian
[1] Ziarah kubur, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berziarah kuburlah kalian sesungguhnya itu akan mengingatkan kalian pada akhirat” (HR. Ahmad dan Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani)[7]
[2] mengunjungi mayit ketika dimandikan dan melihat proses pemandiannya
[3] menyaksikan proses sakaratul maut dan membantu mentalqin
[4] mengantar jenazah, menyolatkan, dan ikut menguburkannya
[5] membaca Al Qur’an, terutama ayat-ayat yang mengingatkan kepada kematian dan sakaratul maut. Seperti firman Allah Ta’ala yang artinya, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya” (QS. Qaaf : 19)
[6] merenungkan uban dan penyakit yang diderita, karena keduanya merupakan utusan malaikat maut kepada seorang hamba
[7] merenungkan ayat-ayat kauniyah yang telah disebutkan Allah Ta’ala sebagai pengingat bagi hamba-hambaNya kepada kematian. Seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, badai, dan sebagainya
[8] menelaah kisah-kisah orang maupun kaum terdahulu ketika menghadapi kematian, dan kaum yang didatangkan bala’ atas mereka
Faidah Mengingat Kematian
Di antara faidah mengingat kematian adalah : [1] memotivasi untuk mempersiapkan diri sebelum terjadinya kematian; [2] memendekkan angan-angan, karena panjang angan-angan merupakan sebab utama kelalaian; [3] menjadikan sikap zuhud terhadap dunia, dan ridha dengan bagian dunia yang telah diraih walaupun sedikit; [4] sebagai motivasi berbuat ketaatan; [5] sebagai penghibur seorang hamba tatkala memperoleh musibah dunia; [6] mencegah dari berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam menikmati kelezatan dunia; [7] memotivasi untuk segera bertaubat dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat; [8] melembutkan hati dan mengalirkan air mata, mendorong semangat untuk beragama, dan mengekang hawa nafsu; [9] menjadikan diri tawadhu’ dan menjauhkan dari sikap sombong dan zhalim dan; [10] memotivasi untuk saling memaafkan dan menerima udzur saudaranya.[8]
Semua makhluk yang bernyawa, pasti merasakan indahnya kematian, bertemu dengan RabbNya, hingga kelak dipersatukan kembali dengan sang Istri sebagai bidadari SurgaMu.
tut tut tut tut tut tut tut tut, bunyi alarm ingat mati..
Wallahu A'lam Bishowab. Semoga bermanfaat.
rendra
[1] Ziarah kubur, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berziarah kuburlah kalian sesungguhnya itu akan mengingatkan kalian pada akhirat” (HR. Ahmad dan Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani)[7]
[2] mengunjungi mayit ketika dimandikan dan melihat proses pemandiannya
[3] menyaksikan proses sakaratul maut dan membantu mentalqin
[4] mengantar jenazah, menyolatkan, dan ikut menguburkannya
[5] membaca Al Qur’an, terutama ayat-ayat yang mengingatkan kepada kematian dan sakaratul maut. Seperti firman Allah Ta’ala yang artinya, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya” (QS. Qaaf : 19)
[6] merenungkan uban dan penyakit yang diderita, karena keduanya merupakan utusan malaikat maut kepada seorang hamba
[7] merenungkan ayat-ayat kauniyah yang telah disebutkan Allah Ta’ala sebagai pengingat bagi hamba-hambaNya kepada kematian. Seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, badai, dan sebagainya
[8] menelaah kisah-kisah orang maupun kaum terdahulu ketika menghadapi kematian, dan kaum yang didatangkan bala’ atas mereka
Faidah Mengingat Kematian
Di antara faidah mengingat kematian adalah : [1] memotivasi untuk mempersiapkan diri sebelum terjadinya kematian; [2] memendekkan angan-angan, karena panjang angan-angan merupakan sebab utama kelalaian; [3] menjadikan sikap zuhud terhadap dunia, dan ridha dengan bagian dunia yang telah diraih walaupun sedikit; [4] sebagai motivasi berbuat ketaatan; [5] sebagai penghibur seorang hamba tatkala memperoleh musibah dunia; [6] mencegah dari berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam menikmati kelezatan dunia; [7] memotivasi untuk segera bertaubat dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat; [8] melembutkan hati dan mengalirkan air mata, mendorong semangat untuk beragama, dan mengekang hawa nafsu; [9] menjadikan diri tawadhu’ dan menjauhkan dari sikap sombong dan zhalim dan; [10] memotivasi untuk saling memaafkan dan menerima udzur saudaranya.[8]
Semua makhluk yang bernyawa, pasti merasakan indahnya kematian, bertemu dengan RabbNya, hingga kelak dipersatukan kembali dengan sang Istri sebagai bidadari SurgaMu.
tut tut tut tut tut tut tut tut, bunyi alarm ingat mati..
Wallahu A'lam Bishowab. Semoga bermanfaat.
rendra



