Mungkin bermakna umum bagi sebagian besar orang. Ya, 1 januari biasanya disebut sebagai tahun baru, tahun dimana kebanyakan orang mencanangkan resolusi baru di tonggak kehidupannya. Tanggal 1 januari 2012 untukku kali ini terasa berbeda. Berbeda dalam arti yang positif tentunya. Dimulai dari beberapa bulan sebelumnya berproses. Berdoa padaNya, lalu menyampaikan niatan besar itu kepadamu, selanjutnya kau memperkenalkanku kepada orang tuamu, memperkenalkanmu kepada orang tuaku, berkunjung ke rumahmu untuk memperkenalkan orang tuaku dengan orang tuamu, dan penentuan tanggal itu.
Sebelum mengulas tentang tanggal 1 januari 2012 itu, aku ingin mengulas sedikit yang masih teringat jelas di memoriku saat kau pada kala itu memperkenalkanku pada keluargamu. Sabtu, Juli 2011 tanggal 2. Ya, saat-saat penting bertemu dengan Ayahmu. Masih ingat saat kau sampaikan padaku, “kalau serius ketemu aja sama papa dulu”. Kurang lebih satu minggu dari hari itu aku berkesempatan bertemu dengan Ayahmu. Seperti yang kau ceritakan padaku saat papa, mama dan saudarimu dengan beberapa teman-temannya berencana mengadakan tour di jakarta. “Subhanallah, Entah bagaimana cara Allah Swt mengatur segala urusan hamba-hambaNya”. Karena tidak lama setelah aku menyampaikan niatan itu kepadamu, aku dipermudah untuk bisa bertemu dengan keluargamu untuk mempertegas niat itu. Saat bertemu dengan Ayahmu pertama kali, bertepatan dengan waktu Sholat Dhuhur masuk. Jadilah aku, dan Ayahmu serta beberapa saudara-saudaramu, melaksanakan kewajiban dengan sholat berjamaah di Masjid. Selepas sholat, kami pun kembali ke rumah singgah. Di situ kami berdua mulai membuka pembicaraan. Nama-nya siapa, tinggal dimana, ketemu dimana, dan pertanyaan pembuka perkenalan lainnya. Hingga tiba diriku menyampaikan niatan itu kepada ayahmu. “Hari ini saya selain bermaksud silaturahim dengan bapak, ada hal penting lainnya yang ingin saya sampaikan”. “(Bismillahirrahmanirrahim—dalam hati), tempo hari saya sudah menyampaikan ke putri bapak, dan sekarang saya ingin menyampaikan, jika diijinkan, saya ingin membina hubungan serius dengan putri bapak. Hubungan tersebut adalah pernikahan”. Hari ini saya datang bertemu dengan bapak, adalah salah satu ikhtiar saya dalam menyempurnakan separuh dari dien-Nya. “keringetan banget pada saat itu”. Setelah beberapa lama, ayahmu mengucapkan salah satu kalimat kunci untukku. “Bapak sama Ibu(orang tua-ku) ditunggu silaturahim ke Jogja ya”. Hari itu pun berlanjut dengan diskusi-diskusi ringan bersama perkumpulan keluarga besar desa Ngijon yang ada di Jakarta. Di hari itu, aku pun berkesempatan bertemu juga dengan Ibu-mu dan saudarimu terkecil. Tapi lebih banyak kuhabiskan waktu untuk ngobrol dengan ayahmu. Sebuah pengalaman luar biasa yang diajarkan Allah Swt kala itu. Sungguh ku bersyukur atas kesempatan emas yang dibukakanNya melalui perantara dirimu. Dear You, terima kasih ya.
| Bertemu dengan keluarga-mu |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar